DAFTAR ISI
Bab I: Gunakan Kacamata Positif
- Berpikir positif adalah jalan
- Hambatan untuk berpikir positif
- Bagaimana anda mulai berpikir positif?
- Jadikan sebagai sumber motivasi
- Bagaimana menggunakan ketidakpuasan?
- Box 1: Tip berpikir positif
- Box 2: Tip menjadi orang yang bahagia
- Box 3: Tip meningkatkan kegigihan
Bab II: Perjuangkan Target yang Bermakna
- Kenapa harus target?
- Hal‐hal yang menghambat tercapainya target
- Hal‐hal yang perlu anda perhatikan dalam membuat target
- Hindari meyakini kebohongan
- Box 1: Karakteristik para pemimpin
- Box 2: Kalimat yang dapat memacu semangat
- Box 3: Lima kelompok manusia
Bab III: Temukan Tuhan & Orang
- Bagaimana menemukan Tuhan?
- Cara membangun kedekatan & kebersamaan
- Mengapa kita gagal menemukan Tuhan?
- Orang seperti apakah yang anda butuhkan?
- Melirik “teori” hijroh
- Box 1: Ucapan yang bagus & ucapan yang tidak bagus
- Box 2: Lima Karakteristik Bahasa yang Bagus
- Box 3: Orang‐orang yang dicintai Allah
Epilog: Depresi dan reformasi diri
Daftar bacaan
Sekilas tentang penulis

PROLOG: DARI STRESS KE DE‐STRESS
Dua Macam Stress
Saya kira sudah maklum bagi banyak orang soal apa itu stress. Stress adalah tekanan batin yang kita rasakan atau yang kita alami. Menurut definisi yang dikeluarkan Canadian Centre for Occupational Health & Safety (1997‐2006), stress adalah tekanan dari luar yang bisa membuat seseorang merasa tertekan. Tekanan yang digolongkan dapat membuat orang stress adalah tekanan yang sifatnya mengancam (threaten), tekanan yang sifatnya menakutkan atau mengerikan (scare), tekanan yang sifatnya mengkhawatirkan (worry), tekanan yang sifatnya menyakitkan atau menusuk (prod) dan tekanan yang sifanya menggetarkan atau menggairahkan (thrill).
Stress semacam ini terjadi dalam berbagai wilayah kehidupan kita. Karena itu ada berbagai istilah yang terkait dengan stress. Orang akan disebut stress finansial kalau yang bersangkutan mengalami tekanan akibat krisis keuangan, punya banyak pinjaman yang sudah mengancam, menghadapi sekian tuntutan atau tagihan. Orang akan disebut stress keluarga (family stress) apabila yang bersangkutan menghadapi perceraian, hubungan yang tidak harmonis, dan berbagai kekacauan dalam rumah tangga. Orang akan disebut stress kerja kalau yang bersangkutan menghadapi sekian tuntutan atau tugas kerja yang tidak atau belum match dengan skill yang dimilikinya. Orang akan disebut stress hubungan kalau yang bersangkutan mengalami masalah dalam pergaulan, entah itu di kampus, di masyarakat atau di tempat kerja. Dan seterusnya dan seterusnya. Kalau melihat berbagai temuan, peristiwa yang termasuk paling banyak mendatangkan stress itu antara lain:
- Kematian pasangan
- Perceraian
- Ketidakharmonisan rumah tangga
- Kehilangan kebebasan seperti misalnya dipenjara.
- Kematian orang dekat
- Penyakit atau luka
- Kehamilan
- Pernikahan
- Masalah‐masalah pekerjaan
Nah, stress dalam arti adanya tekanan batin (tebe) yang kita alami itu tidak bisa secara serta merta kita katakan jelek. Banyak pakar kesehatan mental yang mengatakan bahwa stressnya sendiri itu tidak membahayakan. Lalu apa yang membahayakan? Yang membahayakan kita adalah konsekuensi buruk dari kegagalan kita dalam menangani stress yang kita alami. Jika kita gagal dalam menangani tekanan dari luar, maka kegagalan ini akan berbuntut panjang. Berbagai studi mengungkap bahwa gejala‐gejala yang bisa dikenali itu antara lain:
- Kecemasan dan ketegangan
- Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah
- Menunda ataupun menghindari pekerjaan/tugas
- Bingung, marah, sensitif
- Meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin
- Penurunan prestasi dan produktivitas
- Memendam perasaan
- Gangguan gastrointestinal, misalnya gangguan lambung
- Meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk
- Komunikasi tidak efektif
- Mudah terluka
- Perilaku sabotase
- Mengurung diri
- Mudah lelah secara fisik
- Meningkatnya frekuensi absensi
- Depresi
- Kematian
- Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan)
- Merasa terasing dan mengasingkan diri
- Sulit hamil
- Kebosanan
- Gangguan pernafasan
- Meningkatnya kecenderungan perilaku beresiko tinggi, seperti ngebut, berjudi
- Ketidakpuasan kerja
- Lebih sering berkeringat
- Meningkatnya agresivitas, dan kriminalitas
- Lelah mental
- Gangguan pada kulit
- Penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
- Menurunnya fungsi intelektual
- Kepala pusing, migrain
- Kecenderungan bunuh diri
- Kehilangan daya konsentrasi
- Kanker
- Kehilangan spontanitas dan kreativitas
- Ketegangan otot
- Kehilangan semangat hidup
- Probem tidur (sulit tidur, terlalu banyak tidur)
- Menurunnya harga diri dan rasa percaya diri
Mungkin ada pertanyaan, kenapa yang jadi masalah bukan stressnya? Kenapa kok yang menentukan di sini adalah penanganannya? Kenapa diri kita di sini yang menjadi kunci utama? Kalau melihat praktek hidup, sedikitnya ada tiga alasan yang bisa menjelaskan pertanyaan itu. Apa itu?
Pertama, tidak bisa dihindari kecuali harus dihadapi. Namanya juga orang hidup, pasti masalah hidup itu bisa datang dari berbagai sumber. Ada yang dari kita, ada yang dari orang lain dan ada yang karena memang keadaan. Meski tidak ada orang yang menginginkan masalah, tetapi toh kenyataannya masalah itu tetap saja ada. Setiap orang pasti menghadapi masalah yang spesifik untuk orang itu. Orang miskin punya masalah dengan kemiskinannya. Orang kaya punya masalah dengan kekayaannya. Orang pintar punya masalah dengan kepintarannya. Begitu juga dengan orang bodoh, orang tua, orang muda, dan lain‐lain. Karena sifatanya terkadang tidak bisa dihindari itu, maka yang menentukan adalah cara menghadapinya. Kalau cara kita negatif maka hasilnya negatif. Sebaliknya, kalau cara kita positif maka akibatnya positif.
Kedua, peranan perasaan dan opini yang kita ciptakan. Untuk peristiwa hidup yang tidak terlalu luar biasa dahsyatnya, katakanlah di sini seperti kegagalan, kemunduran usaha, tugas pekerjaan, dan semisalnya, terkadang yang membikin seseorang stress bukan kejadiannya atau peristiwanya. Orang akan stress bahkan distress karena menciptakan opini dan perasaan yang negatif atas kejadian itu.
Sebagai contoh misalnya anda gagal dalam ujian UMPTN atau gagal dalam usaha. Jika yang anda pahami di situ adalah bahwa kegagalan itu merupakan adzab Tuhan yang tidak mungkin anda ubah, nasib buruk yang sudah merupakan takdir anda, Tuhan tidak ramah pada anda, dan lain‐lain, maka opini demikian akan menimbulkan stress atau distress (kufur). Tetapi jika yang anda pahami adalah sesuatu yang sebatas perlu anda pelajari, maka pemahaman demikian tidak sampai menimbulkan stress yang berkelanjutan. Bisa jadi anda malah mendapatkan “berkah” dari peristiwa buruk itu.
Studi mengungkap bahwa yang menyebabkan seseorang menderita stress kerja itu bukan hanya karena tugas‐tugas pekerjaan yang terlalu banyak. Sikap karyawan juga ikut menentukan. Karyawan yang punya sikap hidup positif akan cenderung melihat banyaknya tugas sebagai tantangan (challenge). Dengan penyikapan seperti ini mereka tidak mudah menderita stress kerja. Tetapi karyawan yang punya sikap mental negatif akan cenderung melihat banyaknya tugas sebagai tekanan yang menyakitkan. Dengan penyikapan seperti ini mereka mudah terkena stress, distress dan depresi.
Dengan kata lain, karena perasaan dan opini yang kita ciptakan itu ikut andil dalam menyuburkan atau meringankan stress, maka di sinilah peranan kita menjadi kunci. Jadi, orang bisa stress terkadang bukan karena peristiwa buruk yang menimpanya semata, tetapi karena dia menciptakan perasaan yang buruk dan opini yang buruk atas peristiwa buruk itu.
Ketiga, hukum Tuhan tentang keseimbangan. Tidak semua stressor itu negatif. Ada juga yang positif (bermanfaat) untuk kita meski kita tidak menginginkannya. Kalau kita hidup terlalu “santai” tidak berarti ini baik buat kita. Orang yang berprestasi hebat di dunia ini tidak ada yang memiliki gaya hidup santai dalam arti tidak ada tantangan dan tekanan. Ini berarti bahwa tekanan dan tantangan dari luar itu terkadang kita butuhkan. Hanya saja ketika kadarnya itu berlebih, ya ini memang membahayakan. Makanya ada yang mengatakan bahwa terlalu sedikit tekanan itu sama bahayanya dengan terlalu banyak.
Jadi, intinya di sini adalah keseimbangan (life balance). Bagaimana supaya hidup kita seimbang? Tentu ini harus diciptakan. Tidak mungkin hidup kita seimbang tanpa ada usaha untuk menjadikannya supaya seimbang. Salah satu cara supaya bisa seimbang adalah mengatur emosi atau manajemen emosi. Kemampuan kita dalam mengatur emosi inilah yang kerap disebut Kecerdasan Emosi (EQ), proaktif atau orang yang bisa mengatur dirinya dalam menghadapi kenyataan hidup.
Hubungan Stress & Depresi
Berbagai studi telah membuktikan bahwa stress yang tidak ditangani secara bagus bisa menjadi pemicu paling besar atas munculnya depresi. Apa itu depresi ? Depresi adalah keadaan batin yang tertekan secara berkelanjutan. Kalau batin Anda hanya merasa tertekan, itu disebut stress. Jika stress ini berkelanjutan, disebutlah depresi. Jadi, depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami seseorang tidak kunjung reda. Depresi adalah stress berat yang gagal diatasi secara positif. Phillip L. Rice (1992), menjelaskan bahwa depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang.
Kalau melihat definisi di atas dan melihat kenyataan sehari‐hari, ada semacam keanehan yang bisa kita temukan. Keanehan itu antara lain: banyak orang yang menderita depresi tetapi tidak tahu atau tidak mau tahu kalau dirinya sedang depresi. Banyak orang yang menderita depresi tetapi tidak sadar kalau dirinya sedang depresi. Karena tidak tahu, tidak mau tahu dan tidak sadar, akhirnya tidak terdorong untuk mengatasinya atau tidak terdorong untuk menyembuhkannya (recovery). Ada memang yang tahu dan sudah sadar, tetapi enggan, malas atau malu berkonsultasi atau meminta bantuan untuk mengatasinya.
Depresi adalah masalah yang bisa dialami oleh siapapun di dunia ini. Menurut sebuah penelitian di Amerika, 1 dari 20 orang di Amerika setiap tahun mengalami depresi, dan paling tidak 1 dari 5 orang pernah mengalami depresi sepanjang sejarah kehidupan mereka. Bagaimana kalau itu di Indonesia? Ada kemungkinan itu lebih buruk atau tidak lebih buruk. Kenapa? Dengan banyaknya masalah‐masalah sosial, seperti misalnya: susah mencari pekerjaan, PHK di mana‐mana, gap antara biaya hidup dan penghasilan, dan lain‐lain, tentu ini semua adalah alasan untuk mengatakan kondisinya mungkin akan lebih buruk.
Terlepas apakah itu akan lebih buruk atau tidak akan lebih buruk, tetapi kita bisa meyakini bahwa di kita pun banyak orang yang mengalami depresi. Hasil kajian para ahli mengungkap bahwa penyebab umum depresi itu antara lain:
- Kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan, orang dan keadaan.
- Kurang mampu menjalin hubungan baru dengan manusia
- Kehilangan hubungan yang berarti dengan manusia (keluarga, pacar, dst)
- Didera konflik berkepanjangan
- Menghadapi kesulitan di tempat kerja atau di sekolah
- Menghadapi kesulitan finansial (uang), banyak hutang, dst.
- Mengkonsumsi miras (NAPZA)
- Punya ekspekstasi atau keinginan yang tidak realistis
- Punya kebiasaan negatif (berpikir, berperasaan, bersikap dan bertindak)
Dari berbagai kajian para ahli, depresi itu dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu:
- Psychotic
- Melancholic
- Atypical
Para penderita depresi Psychotic umumnya mengidap delusi atau halusinasi. Kalau mau pakai definisi Pak Prof. Dadang Hawari, halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya sumber stimulus (rangsangan) yang menimbulkannya. Misalnya seseorang mendengar suara‐suara padahal sebenarnya tidak ada sumber suara itu berasal. Ini yang disebut halusinasi pendengaran. Demikian pula halnya dengan halusinasi penglihatan, penciuman rasa dan raba.
Delusi adalah suatu keyakinan yang tidak rasional meskipun telah diberikan bukti‐bukti bahwa pikiran itu tidak rasional. Ada orang yang merasa yakin benar akan ada orang yang berbuat jahat kepadanya padahal pada kenyataannya tidak ada. Orang semacam ini disebut delusi paranoid. Contoh yang ekstrim tetapi banyak muncul di sekeliling kita adalah munculnya ketakutan pada masa depan atau terhantui oleh masa depan yang belum pasti. Bagi semua manusia di dunia ini, masa depan itu adalah sesuatu yang belum pasti. Hanya Tuhan yang mengetahui masa depan.
Namun demikian, yang membedakan orang itu depresi atau tidak, bukannya masa depan yang tidak pasti itu, melainkan bagaimana anda memahami masa depan. Jika anda takut masa depan tetapi ketakutan itu kemudian membuat anda melakukan hal‐hal negatif pada hari ini, misalnya malas‐malasan, kosong, melakukan penyimpangan dan pelanggaran, ingin bunuh‐diri, dan lain‐lain, maka cara yang anda gunakan untuk memahami masa depan adalah cara yang “depresif”, cara yang mendekatkan anda pada depresi.
Tapi jika ketakutan itu malah mendorong anda untuk melakukan hal‐hal positif, misalnya anda mempersiapkan masa depan dengan bekal yang bagus, giat belajar, giat bekerja, memperkuat keimanan, memperbanyak amal sholeh, memperbanyak pergaulan, dan lain‐lain, maka cara anda ini adalah cara yang menjauhkan anda dari depresi. Anda terbebas dari delusi dan halusinasi masa depan.
“Hai orang‐orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al‐Hasyr: 1 
Lalu bagaimana dengan depresi Melancholic? Para penderita depresi tipe ini umumnya mengalami gangguan di sektor biologis. Yang bersangkutan mungkin tidak bisa menikmati hubungan seksual seperti yang diinginkan. Yang bersangkutan mungkin malah merasakan hambar atau bahkan hanya menyiksa atau buang‐buang waktu. Yang bersangkutan mungkin tidak tertarik pada hal‐hal yang menyenangkan atau yang indah.
Sedangkan untuk depresi yang bertipe Atypical, biasanya yang bersangkutan cenderung mengeluarkan reaksi secara ekstrim terhadap berbagai stimulan dari lingkungan atau dari orang lain. Orang tua yang terkena depresi model ini akan bereaksi secara berlebihan ketika melihat anaknya menjatuhkan sendok makan. Para pengendara yang terkena depresi ini akan bereaksi berlebihan ketika mobil atau motornya sedikit diserempet. Dulu di daerah Bekasi, ada orang yang membunuh tetangganya karena (konon) kambing si tetangga itu memakan daun singkong miliknya. Ini semua adalah contoh‐contoh reaksi yang ekstrim. Kalau anda langsung marah dilihat oleh orang, ceklah ke dalam diri anda dulu apakah anda sedang depresi atau tidak.
Secara umum, gejala munculnya depresi di dalam diri seseorang itu bisa dijelaskan antara lain:
- Memburuknya perasaan dan persepsi seseorang terhadap dirinya.
- Memburuknya kemampuan seseorang dalam menanggapi persoalan
- Tidak bisa menemukan kesenangan dalam berbagai hal
- Munculnya perasaan putus asa, tidak berharga, atau sudah tidak berdaya lagi
- Berlebihan dalam menilai diri secara negatif, selalu menyalahkan diri sendiri dan selalu menghakimi diri dengan kesimpulan‐kesimpulan yang negatif.
- Tidak memilih gairah seksual yang positif
- Tidak bisa menciptakan hubungan yang hangat kepada teman atau keluarga
- Pesimis dalam melihat masa depan
- Tidak menunjukkan rasa bertanggung jawab ketika menyelesaikan tugas (asal‐asalan)
- Cenderung ingin menarik diri dari orang banyak
- Memburuknya sikap dan tindakan sehari‐hari
- Cepat marah, cepat mengeluh atau menggerutu
- Tidak puas dengan kehidupannya (kufur mental)
- Ingatannya tidak bagus atau rusak (impaired memory)
- Konsentrasinya tidak bagus (inability to concentrate)
- Gamang dalam melangkah, tidak memiliki keputusan hidup yang jelas
- Gagal dalam mengatasi persoalan hidup harian secara positif dan konstruktif (baik, bermanfaat dan benar) atau lebih cenderung membiarkan dan mengabaikan.
- Berpikir untuk bunuh diri atau “ingin mati saja”
Selain gejala‐gejala yang terkait dengan gangguan emosi, biologis dan sosial seperti di atas, ada lagi gejala fisik yang antara lain seperti di bawah ini:
- Mudah kelelahan secara tidak wajar
- Kurang energi atau tidak produktif
- Hilang nafsu makan atau sebaliknya (terlalu berlebihan ingin makan)
- Susah tidur, sulit bangun pagi atau tidur terus (berlebihan)
- Punya keluhan kesehatan fisik yang tidak wajar, misalnya sedikit‐sedikit sakit kepala, sakit punggung, dan lain‐lain
- Mengalami gangguan pencernaan (digestive problem), seperti mudah sakit perut, mual‐mual, dan semisalnya.
Antara Penyebab yang Benar & yang Sebenarnya
Dua kali saya bertugas ke Aceh paska tsunami, selalu saya sempatkan ngobrol dengan orang‐orang yang mengalami lansung peristiwa naes itu. Kebetulan saya banyak kawan di sana yang bisa membantu saya mengantarkan ke mana‐mana. Dari sekian orang yang saya ajak ngobrol, ada satu yang menarik buat saya.
Melalui kawan saya ini, saya ngobrol dengan seorang bapak yang usianya kira‐kira 50‐55 tahun. Bapak itu bercerita bahwa saat kejadian itu ia dan keluarganya memang sudah beraktivitas. Kebetulan ia dan keluarga punya warung nasi di depan rumah sakit besar di Ulele. Tapi karena musibah itu terlalu besar untuk ukuran manusia bisa menyelematkan diri, ia dan keluarganya terbawa ombak sampai ke tengah laut.
“Lalu gimana Pak kondisinya?”, tanya kawan saya begitu.
“Istri dan anak saya meninggal. Saya hidup sendirian sekarang. Saya selamat karena waktu itu ada semacam kayu besar yang saya tumpangi. Dari situlah saya kemudian ditolong orang.”
Karena asyik ngobrol dengan bahasa Aceh, kawan saya ini nyeletuk yang persisnya mungkin begini: ”Wah, masih syukur dong Bapak selamat”. Tanpa diduga Bapak itu malah menjawab begini: “Bukannya syukur karena masih hidup. Bagi saya mungkin lebih baik mati sekalian dari pada hidup begini”, begitu kira‐kira jawaban Bapak itu. Mengingat situasi obrolan sudah akrab, jadinya kita bertiga ketawa saja mendengar ucapan kayak gitu.
Nah, seperti yang sudah kita bahas di muka, orang yang punya pendirian lebih baik mati dari pada hidup, orang yang memilih ingin mati saja, orang yang sepertinya sudah tidak sanggup menemukan betapa berartinya hidup ini, secara ilmiahnya disebut depresi. Tentu saja ini berbeda‐beda tingkatan dan stadiumnya: ada yang rendah, ada yang menengah, dan ada yang tinggi.
Jadi, kenapa orang menderita depresi? Untuk menjawab ini saya ingin menggunakan istilah “sebab yang benar” dan “sebab yang sebenarnya”. Sebab yang benar adalah pemicu (trigger) atau eksternal stimulant. Ini misalnya perlakuan orang lain yang buruk pada kita atau karena musibah, bencana alam dan penyakit yang benar‐benar memperburuk hidup kita. Jika anda mengalami kenyataan pahit semacam itu, anda punya alasan yang benar untuk stress, depresi, distress dan lain‐lain. Secara fakta hidup, memang hal‐hal buruk yang muncul dari kehidupan ini bisa membikin kita mengalami berbagai gangguan batin.
Adapun sebab yang sebenarnya (the real cause) adalah diri kita atau internal determinant (penentu). Dihantam musibah seperti Bapak di atas, memang mau tidak mau akan menganggu hidup kita. Hanya saja yang membedakan di sini bukan soal terganggunya, tetapi adalah: sejauhmana itu akan berlanjut dan sejauh mana itu akan berdampak. Dua hal ini adalah kita yang menentukan. “We are the law of ourselves.”
Jika penderitaan itu kita sikapi secara negatif dan membikin hidup kita semakin bergerak ke arah negatif dalam waktu yang lama, maka yang menegatifkan hidup kita bukan hanya penderitaan itu. Kita pun ikut‐ikutan menegatifkan diri kita dengan sikap dan tindakan yang kita ambil. Jika kita menolak belajar untuk menjadi orang yang lebih cerah, lebih bijak, dan lebih kuat dari penderitaan, maka yang ikut men‐depresi‐kan hidup kita bukan hanya penderitaan. Kita pun ikut‐ikutan melakukannya. Kitalah yang menentukan apakah depresi itu akan sembuh dalam waktu cepat atau akan “kambuh” dalam waktu lama.
Mengingat bahwa manusialah yang menjadi faktor kunci penyembuhan di sini, makanya Al‐Qur’an itu dari abjad awal sampai akhir selalu berbicara tentang manusia. Ini masih diperkuat lagi dengan misi Nabi untuk memperbaiki akhlak manusia. Manusia yang kuat (Berakhlak Qur’ani) tidak berarti tidak merasakan stress ketika dihantam musibah. Stress dalam pengertian goncang batinnya dialami oleh semua manusia, terlepas apapun akhlaknya. Bedanya, manusia yang berakhlak Qur’ani akan menempuh cara yang positif, tetap melakukan hal‐hal yang positif, dan tetap bisa mengontrol diri agar tidak tergelincir pada hal‐hal negatif terlalu lama. Dengan ini semua, mereka akhirnya memperoleh hasil yang positif dari kenyataan hidup yang negatif.
Untuk memperokoh kedudukan manusia di muka bumi ini, Al‐Qur’an memberikan dua sebutan kepada manusia. Pertama, Al‐Qur’an memberikan sebutan “abdun” hamba. Sebagai hamba, manusia perlu merasa kecil di hadapan Tuhan. Dunia dan seisinya serta dengan warna‐warninya ini bisa dibolak‐balik oleh Tuhan sekehendak‐Nya. Manusia tidak punya kekuasaan sedikit pun jika dibanding dengan betapa besar kuasanya Tuhan itu. Tugas manusia adalah meng‐hamba di hadapan Tuhan (beribadah).
Kedua, Al‐Qur’an memberikan sebutan “khalifah” penguasa. Sebagai penguasa, manusia diberi kebebasan memilih yang tak terbatas dan memiliki potensi yang tak terbatas. Dalam keadaan seburuk apapun, manusia tetap tidak akan kehabisan cara, opsi, pilihan, dan alternatif untuk memperbaiki diri. Khalifah adalah determinant (penentu). Dalam istilah Learning Psychology‐nya, orang yang sadar bahwa dirinya adalah kholifah, adalah orang yang memiliki orientasi hidup “autonomy orientation”, menentukan langkahnya, menentukan persiapan untuk masa depannya, menjadi kholifah bagi dirinya.
Yang menjadi persoalan sendiri di lapangan adalah tidak semua manusia bisa mampu menyadari dua sebutan itu. Kebanyakan orang, terutama saat tertimpa hal‐hal buruk, hanya merasa dirinya sebagai hamba. Kalau merasa hamba di hadapan Tuhan, tentunya ini bagus. Yang tidak bagus adalah merasa sebagai hamba di hadapan diri sendiri dan di hadapan realitas buruk yang menimpa kita.
Solusi apakah yang Anda perlukan?
Wajarkah seorang itu strees? Wajarkah orang itu menderita depresi? Kalau melihat praktek hidup, ini bukan soal urusan wajar atau tidak. Stress, depresi dan berbagai gangguan kejiawaan lain bisa menimpa siapa saja. Bahkan terkadang sulit dihindari. Seperti yang sudah saya katakan di muka, kalau usaha anda gagal bertub‐tubi, anda stress. Ini terlepas apakah anda orang baik atau orang jahat, terlepas apakah anda orang beriman atau tidak. Kalau anda terkena musibah seperti yang dialami bapak‐bapak di Aceh yang kehilangan keluarganya atau ibu‐ibu yang kehilangan keluarganya, andapun mungkin terkena depresi.
Yang menjadi pembeda seringkali bukan soal stressnya atau depresinya, tetapi adalah soal bagaimana kita menghadapinya. Ketika sudah bicara “bagaimananya”, tentu ini mengarah pada cara apakah yang akan kita gunakan. Apakah kita akan menggunakan cara yang positif dan konstruktif (membangun), cara yang diinginkan Tuhan, ataukah kita akan menggunakan cara yang negatif dan destruktif (merusak), cara yang diinginkan setan.
Cara positif dan konstruktif yang akan kita gunakan itulah yang disebut solusi. Seperti yang sudah sering saya katakan di berbagai kesempatan, bahwa tidak semua persoalan itu ada solusinya. Ini jika yang kita maksudkan dengan solusi itu adalah sesuatu yang bisa mengakhiri masalah yang kita hadapi. Artinya, ada solusi dalam bentuk hasil dan ada solusi dalam bentuk proses. Sebagian besar masalah “human quality” tidak ditemukan solusi dalam bentuk hasil. Sebagian besar solusinya adalah proses yang perlu kita lakukan.
Untuk membedakan solusi dalam bentuk proses dan solusi dalam bentuk hasil itu misalnya anda punya hutang satu juta sama seseorang. Jika anda pada hari “H” ditagih oleh orang itu dan anda punya uang satu juta untuk membayarnya lalu anda membayarnya, ini namanya solusi dalam bentuk hasil. Begitu anda membayarnya, anda sudah tidak punya masalah lagi dengan orang itu.
Tapi ini beda dengan masalah‐masalah seperti stress, depresi, distress, atau masalah batin manusia lainnya. Jika anda depresi lantaran masalah keluarga yang terus meruncing, anda tidak bisa berpura‐pura seperti orang yang tidak punya masalah. Jika anda depresi lantaran di‐PHK dan anda sudah mencari pekerjaan kemana‐mana tetapi masih belum ketahuan hasilnya, anda tidak bisa menyembunyikan perasaan anda. Anda tetap bersedih meskipun ada seribu orang yang mengatakan jangan bersedih, anggap saja itu tidak ada, lupakan saja, dan seterusnya. Kata para ahlinya, ledakan perasaan itu tidak bisa dihilangkan.
Yang bisa kita lakukan adalah mengelolanya. Apakah kita akan mengelolanya untuk tujuan positif ataukah kita akan mengelolanya untuk tujuan negatif? Kegiatan mengelola inilah pilihan kita.
Berdasarkan kenyataan seperti yang dijelaskan di muka, buku ini mengajak anda semua untuk mengelolanya secara positif dan untuk tujuan positif (memperbaiki diri). Buku ini menawarkan solusi depresi dalam bentuk proses yang penting untuk kita lakukan. Secara garis besar, buku ini menyajikan tiga bahasan tentang proses itu:
Pertama, menciptakan kondisi batin yang positif (menciptakan pikiran positif). Kenapa kita perlu menciptakan kondisi batin yang positif? Seperti yang dijelaskan di sini bahwa depresi tidak mungkin diatasi dengan hanya menciptakan kondisi batin yang positif. Tetapi ada satu hal di sini bahwa untuk mengatasi depresi dengan cara positif tidak mungkin dilakukan dengan kondisi batin yang negatif. Jadi, menciptakan kondisi batin yang positif di sini adalah jalan, bukan tujuan.
Kedua, menciptakan aksi yang positif (memperjuangkan target yang bermakna untuk diri kita). Setelah kita menciptakan kondisi batin yang positif, berikutnya adalah menciptakan aksi yang positif dan jelas sasarannya. Aksi yang positif akan membuat kita punya perasaan positif. Inilah salah satu rahasia kenapa Al‐Qur’an menyuruh manusia beriman dan beramal sholeh. Tak hanya perasaan positif saja yang akan kita dapatkan. Aksi positif juga akan membuahkan hasil yang positif di hari esok. Jadi, meskipun masa lalu kita kacau dan hari ini kita menderita depresi, namun kalau aksi yang kita lakukan pada hari ini itu positif, ya hasilnya di kemudian hari adalah hasil yang positif. Ini beda dengan misalnya kita melakukan aksi yang negatif atau tidak melakukan aksi apa‐apa. Sudah hari ini kita menderita depresi dan di hari esoknya kita juga tetap depresi. Kita rugi dua kali.
Ketiga, menciptakan hubungan yang positif (menemukan Tuhan dan orang). Ini berfungsi untuk memperkuat langkah kita yang pertama dan yang kedua. Memperkuat hubungan dengan Tuhan, akan membuat langkah kita tidak gampang diserang keputusasaan dan kepasrahan. Memperkuat hubungan dengan Tuhan akan melindungi kita dari penyimpangan dan pelanggaran akibat godaan setan.
Begitu juga dengan peranan orang lain. Kita memang tidak bisa mengandalkan orang lain, tetapi kita membutuhkan orang lain untuk mengatasi depresi ini. Nah, hanya saja masalahnya adalah tidak semua orang lain itu kita butuhkan. Ini mengingat bahwa ada orang lain yang malah bikin kita depresi dan ada orang lain yang bisa membantu kita menyembuhkan depresi. Yang kita butuhkan adalah orang lain yang bisa membantu.
Itulah sekilas apa yang akan dibahas dalam buku ini. Mudah‐mudahan buku ini bisa menambah dan melengkapi jurus‐jurus yang sudah anda miliki dalam menangani depresi. Kepada pihak penerbit, pembaca dan orang‐orang yang terlibat dalam penyelesaian buku ini, saya ucapkan terima kasih. Komentar dan pertanyaan bisa dikirim ke: bismika@dnet.net.id
AN. Ubaedy - Human Learning Specialist
KLIK LINK DIBAWAH INI UNTUK DOWNLOAD GRATIS
